Studi menemukan berada di lingkungan alam 10-20 menit sehari dapat mengurangi stres dan kecemasan.

Carly Wood, University of Westminster

Di seluruh dunia, para mahasiswa sedang mengalami tingkat stres yang tinggi dan kesehatan mental yang buruk. Contohnya, dalam sepuluh tahun terakhir di Inggris telah terjadi peningkatan lima kali lipat dalam jumlah siswa yang melaporkan masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan, depresi, dan skizofrenia.

Beberapa masalah kesehatan mental yang paling umum dialami oleh siswa Amerika Serikat (AS) termasuk kecemasan luar biasa, perasaan sangat tertekan hingga sulit untuk berkegiatan, dan keputusasaan. Beberapa bahkan melaporkan untuk mempertimbangkan bunuh diri.

Namun, walau kesehatan mental menjadi semakin umum di kalangan siswa, banyak yang harus menunggu lama atau memiliki akses terbatas ke layanan kesehatan mental.

Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa satu cara sederhana untuk meningkatkan kesehatan mental adalah pergi keluar. Faktanya, ulasan terbaru dari bukti-bukti yang ditemukan, menunjukkan bahwa hanya 10 menit sehari terpapar dengan alam dapat bermanfaat bagi siswa – tentu temuan ini ada prasyaratnya.

Bukti menunjukkan bahwa berada di lingkungan alam dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental.

Meskipun solusi ini mungkin terdengar menjanjikan, menemukan peluang untuk mengakses lingkungan alami bisa jadi terbatas. Banyak siswa harus menghabiskan sebagian besar waktu mereka di dalam ruangan untuk belajar, menghadiri kuliah atau di perpustakaan.

Banyak penelitian yang melihat manfaat kesehatan dari berada di alam sudah mulai berfokus pada mencari tahu berapa lama waktu yang kita butuhkan di lingkungan alam untuk mengalami peningkatan kesehatan. Satu studi menemukan bahwa berada di lingkungan alam selama 20 hingga 30 menit tiga kali seminggu adalah waktu paling efektif untuk mengurangi kadar kortisol (hormon “stres”) dalam tubuh.

Studi lain menunjukkan bahwa menghabiskan minimal 120 menit di lingkungan yang alami – dibandingkan dengan tidak memiliki kontak dengan alam dalam seminggu terakhir – secara signifikan meningkatkan kemungkinan seseorang akan melaporkan merasa dalam kesehatan yang baik dan memiliki kesejahteraan yang tinggi. Namun, tak satu pun dari studi ini secara khusus berfokus pada mahasiswa.

Dosis minimum

Kajian terbaru berusaha mengidentifikasi dosis “alam” minimum yang diperlukan untuk meningkatkan kesehatan mental mahasiswa dan jenis kegiatan berbasis alam apa yang membawa manfaat. Mereka melihat dari total 14 studi, yang mencakup 706 siswa dari Jepang, AS dan, Swedia.

Para penulis melihat secara khusus pada studi yang diterbitkan dalam bahasa Inggris atau Prancis, yang melibatkan partisipan berusia antara 15 dan 30 tahun. Mereka juga hanya melihat studi yang meneliti berapa banyak waktu yang dibutuhkan seseorang untuk menghabiskan waktu di alam, apakah studi tersebut memantau perubahan kesehatan mental partisipan, dan membandingkan perubahan ini di setidaknya dua situasi lingkungan. Semua studi yang mereka amati membandingkan lingkungan perkotaan dengan lingkungan alami (area seperti cagar alam, hutan, taman kota, dan area alam di kampus-kampus Universitas).

Secara keseluruhan, ulasan tersebut menemukan bahwa dibandingkan dengan waktu yang sama dihabiskan di lingkungan perkotaan, hanya 10 hingga 20 menit (dan sampai 50 menit) duduk atau berjalan di berbagai tempat berlatar alam, dapat menyebabkan peningkatan kesehatan yang signifikan. Hal ini termasuk penurunan detak jantung, tekanan darah dan kortisol, peningkatan suasana hati dan berkurangnya kecemasan.

Ruang hijau di kampus itu penting.
aslysun/ Shutterstock

Temuan-temuan ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang mengamati orang-orang dari segala usia. Ini menunjukkan bahwa lingkungan kampus dapat menyediakan dosis “alam” secara reguler untuk menargetkan dan meningkatkan kesehatan mental siswa mereka. Siswa mungkin juga sebaiknya memasukkan paparan dengan alam ke dalam kehidupan sehari-hari mereka sebagai salah satu cara memerangi stres dan gangguan mental.

Namun, terlepas dari temuan yang menggembirakan ini, hal-hal ini tetap harus ditafsirkan dengan hati-hati. Sebagian besar studi yang termasuk dalam ulasan ini dilakukan di Jepang dan pada peserta laki-laki. Jadi temuan ini mungkin tidak berlaku untuk siswa dari semua jenis kelamin dan dari seluruh dunia.

Masih belum jelas juga apakah siswa yang diteliti menderita gangguan mental pada saat penelitian. Bukti yang muncul menunjukkan bahwa paparan dengan alam mungkin paling bermanfaat bagi individu dengan kesehatan rendah. Jadi, penting untuk menentukan kelompok siswa mana dari pengalaman semacam ini yang akan paling diuntungkan.




Baca juga:
Anxiety and depression: why doctors are prescribing gardening rather than drugs


Ulasan ini juga tidak dapat menyelidiki apa manfaat aktivitas fisik (selain berjalan) di alam. Apa yang disebut sebagai “olahraga hijau” telah terbukti memiliki manfaat kesehatan tambahan dibandingkan dengan paparan dengan alam atau aktivitas fisik saja, menghasilkan peningkatan yang lebih besar dalam kepercayaan diri dan suasana hati.

Akhirnya, para peneliti tidak memasukkan meta-analisis studi – sebuah teknik untuk menyatukan beberapa studi ilmiah untuk menemukan efek umum – untuk menentukan kekuatan keseluruhan bukti. Mereka juga tidak mempertimbangkan bias atau kualitas studi yang dimasukkan. Jadi tidak jelas seberapa kuat efek keseluruhan atau seberapa andal studi yang disertakan. Penelitian lebih lanjut perlu mengatasi kesenjangan ini.

Berdasarkan temuan kajian ini, dan semakin banyak penelitian yang mendukung manfaat kesehatan mental dari paparan dengan alam dan olahraga hijau, baik siswa dan masyarakat umum harus mencoba menghabiskan waktu di alam sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka sebagai cara memerangi stres dan meningkatkan kesehatan mental.

Aisha Amelia Yasmin menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.The Conversation

Carly Wood, Lecturer in Nutrition and Exercise Science, University of Westminster

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.